Fayakhun Ingatkan Pentingnya Inovasi dan Kreatifitas SDM
Demikian ulasan Fayakhun
di laman doktor-politik-ui.net. fayakhun
melanjutkan, bahwa Di era dimana kualitas manusia Indonesia menjadi
penentu, inovasi dan kreatifitas adalah prasyarat. Kompetisi global akan
semakin ketat. Daya saing Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa banyak
sumber daya alam yang dimiliki dan bisa diolah. Tapi sejauh mana manusia
Indonesia bisa menciptakan kreasi dan inovasi yang membuat Indonesia terdepan
dalam berbagai aspek. “Sumber daya alam hanyalah penunjang dari kapasitas
kreasi dan kapabilitas inovasi manusia Indonesia. Karena di masa mendatang,
dunia akan semakin tidak menggantungkan diri pada sumber daya nonkreasi dan
noninovasi,” tutunya.
Lebih jauh Fayakhun mendorong agar pembangunan manusia
menjadi prioritas. Dalam hal kuantitas, Indonesia sudah menang satu langkah.
Populasi yang sangat besar bisa menjadi andalan serius. Dalam hal potensi populasi,
Indonesia bisa setara dengan negara-negara besar di dunia: Cina, India, Amerika
Serikat. “Tapi resikonya, jika tak berkualitas, populasi yang banyak justru
jadi kendala dan beban berat bagi kemajuan bangsa-negara kita ini. Negara kita
bisa ditarik mundur oleh beban populasi. Jadi, hanya ada satu jalan:
menciptakan manusia yang berkualitas,” tandasnya.
Maka bagi Fayakhun pendidikan harus mendapat perhatian
serius. Paradigma pendidikan mutlak diarahkan pada lahirnya manusia yang
kreatif dan inovatif. Berdaya saing global, namun memiliki citarasa
nasional. Ketika berkiprah di level global, manusia Indonesia harus
bertopang pada jati diri dan karakter keindonesiannnya. Ini modal utama untuk
membawa Indonesia ke pentas global.
Di sisi lain, pembangunan manusia tidak bisa dilakukan
secara instan. Ini proyek jangka panjang yang harus dijaga tahapan-tahapannya.
Tak boleh terputus. Fayakhun memberi contoh Korea Selatan, baru bisa “memanen
buah” pembangunan manusianya setelah hampir empat dekade “menanam”. Kini,
Korea Selatan masuk di jajaran negara dengan kualitas manusia yang tinggi,
kreatif dan inovatif, tapi tetap membawa karakter bangsa Korea Selatan
yang khas.
“Potensi sumber daya manusia Indonesia sebenarnya jauh di
atas Korea Selatan. Namun sayangnya, “pohon”pembangunan manusia Indonesia tidak
digarap serius dan tidak berkelanjutan. Cetak birunya selalu saja berubah-ubah
dari satu periode pemerintahan ke pemerintahan yang selanjutnya. Akibatnya,
hasilnya tidak utuh, alias parsial,” pungkas Fayakhun.
Komentar
Posting Komentar